MADANIA Inklusif Sejak Berdiri


Belakangan ini di Indonesia bermunculan sekolah berstandar internasional. Namun, tak banyak yang benar-benar menjalankan semangat inklusif seperti Madania. Gambaran inklusif tampak di Madania yang berlokasi di kompleks Telaga Kahuripan, Parung, Bogor.

Lihat saja, dari total 700-an siswa dari SD hingga SMA, 50-an siswa di antaranya berkebutuhan khusus. Mereka dilayani dengan program belajar yang juga dirancang secara khusus.

Lahir dengan Inklusif
Madania berdiri sejak tahun 1996. Seperti umumnya sekolah berstandar internasional, proses belajar-mengajar sekolah ini menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Sekolah ini memiliki semua fasilitas pendidikan modern, seperti perpustakaan, aneka laboratorium, fasilitas teknologi informasi, dan yang sejenis. Sekolah ini juga memiliki fasilitas olahraga dan kegiatan ekstrakulikuler yang wah. Mulai dari kolam renang, lapangan sepak bola, basket, bulutangkis, baseball, hingga studio musik. Jangan kaget, karena luas areal sekolah Madania mencapai 4 hektare.

Menurut Ade Tuti Turistiati, Head of Educational Support Madania, sejak awal, pendirinya (almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Drs. Ahmad Fuadi, dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat), merancang sekolah ini mengusung filosofi inklusif. “Bukan hanya inklusif dalam hal siswa berkebutuhan khusus, tapi juga dalam hal agama, suku bangsa, dan sebagainya,” kata Ade. Madania berasal dari kata “madaniah”, yang berarti peradaban. Seperti pengertian namanya, Madania diharapkan membangun peradaban melalui prinsip dan filosofi menghargai perbedaan agama dan pemikiran, menghormati individu dengan kebutuhan yang beragam, sesuai kebutuhan dan kemampuan yang berbeda.

Pengertian kebutuhan dan kemampuan yang berbeda ini termasuk kebutuhan khusus karena menyandang disabilitas. Karena itu, sejak awal berdiri Madania sudah menerima siswa berkebutuhan khusus.

Inklusif Versi Madania
Ade mengaku tidak semua anak berkebutuhan khusus bisa diterima di Madania. Mereka melakukan semacam tes atau orientasi untuk memastikan apakah kondisi kekhususan si anak masih dalam standar yang bisa dilayani. Sebagai contoh, untuk anak SD, motoriknya cukup baik, mampu melakukan kegiatan toilet sendiri, masih bisa berkosentrasi 5 menit ke atas, perilakunya tidak ekstrem, dan sebagainya. Kadang untuk memastikan diminta diagnosis dari psikolog.

Untuk melayani anak didik berkebutuhan khusus ini Madania menyediakan program khusus sesuai kondisi siswa dan kesepakatan dengan orang tua. Ada tiga klasifikasi program, yaitu Reguler, Modifikasi, dan Individual. Dalam klasifikasi Reguler, siswa sepenuh ikut bergabung dengan anak-anak yang tidak berkebutuhan khusus di kelas. Dalam klasifikasi Modifikasi, untuk sebagian kegiatan belajar-mengajar siswa bergabung di kelas regular, tapi untuk pelajaran-pelajaran tertentu ditarik dari kelas dan diajar secara one to one oleh guru khusus di ruangan tersendiri. Dalam klasifikasi Individual, siswa belajar di ruang tersendiri dan ditangani 3 hingga 5 guru khusus.

Madania secara periodik melakukan pembekalan dan pelatihan terhadap guru-guru. Selain itu, setiap minggu diadakan pertemuan untuk berbagi pengalaman sesama guru. “Kami menganggap semua anak sama, cuma kebutuhannya yang berbeda. Bagi kami, semua anak Madania,” ujar Ade.


Pengalaman Inklusif
Salah seorang siswa berkebutuhan khusus Madania adalah Nikolas Agung Pawitan, 16 tahun, yang sejak kecil mengalami keterlambatan bicara dan belakangan didiagnosis menyandang autistik. Ketika di SD dan SMP, anak tunggal pasangan Danny Pawitan dan Indra Susianti ini ikut program kelas Modifikasi. Namun, setelah di kelas X, ia mengambil kelas Individu.

Menurut sang ibu, Indra Susianti, perpindahan program kelas ini karena Nikolas juga bersekolah di salah satu SMK Pariwisata di Bogor. Keputusan sekolah ganda ini karena Nikolas sangat berminat pada traveling dan turisme. Ia sangat hafal peta, kota-kota, daerah, bahkan jalur-jalur bus, angkutan kota, dan penerbangan pesawat. “Tanya daerah mana saja, dia tahu. Penerbangan dari mana mau ke mana, jam berapa, dia hafal.”

Nikolas tetap bersekolah di Madania karena juga kuat dalam pelajaran ekonomi. “Akuntansi, hitung-menghitung, dia suka. Teliti,” turur Indra Susianti. Namun, lebih dari itu, Nikolas senang bersekolah di Madania. “Temannya baik-baik. Kantinnya bersih. Ada studio musik,” ujar Nikolas.

Nikolas memang suka musik. Ia pintar main piano, bahkan beberapa kali manggung. Itulah yang membuat Indra Susianti dan suami senang menyekolahkan Nikolas di Madania. “Dia mengalami sangat banyak kemajuan dalam komunikasi pengembangan bakat. Dia juga lebih mandiri. Dan yang terpenting, sekolah menerima dia apa adanya. Guru-guru, teman-teman, lingkungan bisa memahami,” ujar Indra.

Menurut Indra, dari kebijakan hingga sikap guru dan staf, Madania benar-benar konsekuen dan menjalankan inklusif dengan baik. “Saya merasakan, karena sejak Niko sekolah di sini, saya tiap minggu meeting dengan guru.” Ade Tuti Turistiati menuturkan, suasana inklusif di Madania bukan hanya membuat senang orang tua siswa berkebutuhan khusus, melainkan juga orang tua siswa yang tidak berkebutuhan khusus. “Mereka merasa senang anak-anaknya belajar bersama anak berkebutuhan khusus, karena mengajar anak-anak itu jadi berempati, bersyukur,” ujar Ade.

foto: Adrian Mulya & Sigit D Pratama
(Rubrik Inklusif diffa 05, Mei 2011)

Cari Artikel

Versi Cetak

Mitra

fordbanner

Corporate Social Responsibility

mediakita 2012 3

 

320x60-df

logoIB2a

Puisi-puisi

Majalah Diffa on Facebook



Jaringan

 

LogoRumahAutis

Logo Daksa

logo-gagasmedia

sehjiralogo

 thisablelogo