Tempat Keluh Kesah Keluarga Cerebral Palsy

 

Di sudut sempit sebuah ruangan penginapan sederhana di Jalan KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta, terpampang papan nama Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP). Team Diffa disambut dengan ramah oleh pengurus WKCP. Penuh kekeluargaan, walau sesaknya ruang tak menghambat diskusi hangat. Wahana Cerebral Palsy adalah sebuah komunitas yang dibentuk oleh orang tua anak penyandang cerebral palsy tempat dimana mereka bisa berbagi suka duka, ilmu dan pengalaman.

CP Itu Gangguan Otak

WKCP 2Walau tampak muka muka letih orang tua yang hadir namun mereka semua tetap semangat bercerita walau kadang ada yang pesimis namun tetap dikuatkan oleh orang tua yang lain. Perasaan senasip mengumpulkan mereka dalam satu wahana tempat mereka berkeluh kesah sambil terus berharap dan terus berusaha meraih mimpi untuk anak anak penyandang cerebral palsy.

Reni (32) seorang ibu yang dianugrahi anak dengan cerebral palsy menjelaskan secara lugas apa itu cerebral palsy. Reni menjelaskan dengan runut, bahwa otak adalah organ yang mengontrol semua kegiatan yang kita lakukan. Beberapa bagian dari otak bertugas untuk mengontrol pergerakan setiap otot dalam tubuh. Dalam Cerebral Palsy terdapat kerusakan/cedera pada otak atau kurang berkembangnya beberapa area dari fungsi otak itu sendiri. Cerebral Palsy adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan syaraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, dan bicara yang dapat terjadi pada masa awal kelahiran sampai proses pertumbuhan otak.

Cerebral Palsy bukanlah suatu penyakit. Penyebab terjadinya cerebral palsy belum bisa dipastikan, karena banyak faktor yang mengakibatkan cerebral palsy. Beberapa kasus cerebral palsy terjadi karena bayi lahir prematur, ketuban pecah, bayi lahir tidak langsung menangis, mengalami pendarahan/ cedera di otak, karena cacat tulang belakang, karena virus atau parasit, serta akibat panas tinggi.

Sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan cerebral palsy. Namun tetap ada harapan untuk mengoptimalkan kemampuan sensorik dan motoik penyandang cerebral palsy agar membuatnya mandiri, dengan jalan fisioterapi dan terapi terapi lainnya.

Dari penjelasan di atas maka tidak dapat mengategorikan penyandang cerebral palsy dalam kategori disabilitas mental atau dalam kategori tunadaksa. “CP adalah CP!”, tegas Reni menjelaskan.

Keberhasilan terapi yang diberikan sangat bergantung pada konsistensi dan kesabaran menjalaninya. Walau hal ini membutuhkan biaya yang sangat besar, namun setidaknya keluarga penyandang cerebral palsy masih punya harapan untuk kemandirian anak anaknya. Seperti Safrina seorang guru SLB yang berhasil lulus yang juga menulis, Faisal Rusdy yang sukses menjadi pelukis mulut, atau Agung Pahlevi seorang dosen yang berhasil menyelesaikan study pasca sarjananya.

Cari Artikel

Versi Cetak

Mitra

fordbanner

Corporate Social Responsibility

mediakita 2012 3

 

320x60-df

logoIB2a

Puisi-puisi

Majalah Diffa on Facebook



Jaringan

 

LogoRumahAutis

Logo Daksa

logo-gagasmedia

sehjiralogo

 thisablelogo